New Policy: Kemenhut Ungkap Populasi Orangutan Sumatra dan Tapanuli, Dorong Konservasi
Partaiberita.com – Kementerian Kehutanan mengumumkan hasil survei terbaru yang menunjukkan jumlah Orangutan Sumatra (Pongo abelii) mencapai sekitar 11.694 individu, sementara Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) hanya berjumlah 716. Informasi ini dirilis dalam Seminar Nasional Konservasi Orangutan Sumatra dan Tapanuli yang digelar di Hotel Aryaduta Medan, pada 18 Juli 2026. Sebagai bagian dari new policy yang tengah diterapkan, upaya ini bertujuan memperkuat strategi perlindungan kedua spesies yang terancam punah tersebut.
Tujuan dan Lingkup New Policy
Survei yang dilakukan antara tahun 2021 hingga 2023 menjadi dasar utama dalam penyusunan new policy yang dirancang untuk meningkatkan efektivitas konservasi. Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, menegaskan bahwa new policy ini mengintegrasikan data ekosistem dengan kebijakan lintas sektor, termasuk pertanian, perkebunan, dan perikanan. “Dengan pendekatan holistik, kita bisa menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian keanekaragaman hayati,” ujarnya. Pihaknya juga menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dan lembaga lokal dalam mengawasi keberlanjutan populasi orangutan.
“Konservasi orangutan tidak bisa dilakukan secara terpisah dari pengelolaan lingkungan sekitarnya. New Policy ini memberikan kerangka kerja yang lebih sistematis untuk mencapai target penyelamatan spesies dalam waktu dekat,” tambah Rohmat Marzuki dalam wawancara terpisah.
Dalam rangka mendukung new policy, Kemenhut mengungkapkan bahwa kawasan konservasi dan ekosistem hutan primer tetap menjadi prioritas. Namun, tantangan seperti deforestasi ilegal, perubahan iklim, dan eksploitasi sumber daya alam masih menjadi ancaman utama. Rohmat Marzuki menyebutkan bahwa new policy melibatkan kerja sama dengan lembaga internasional, seperti WWF dan IUCN, untuk memastikan pendekatan yang berkelanjutan. Selain itu, pihaknya juga menyiapkan program pengawasan kecil dan besar yang akan mengukur keberhasilan kebijakan dalam lima tahun ke depan.
New Policy juga menitikberatkan pada pembangunan ruang konservasi baru. Dalam seminar, beberapa daerah seperti Aceh dan Sumatera Utara disebut sebagai lokasi strategis untuk pengembangan kawasan konservasi tambahan. Heri Wahyudi Marpaung, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumatera Utara, menyatakan bahwa new policy berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat setempat untuk melibatkan mereka dalam proses konservasi. “Masyarakat lokal adalah bagian integral dari solusi ini, terutama karena mereka memiliki wawasan tradisional tentang lingkungan sekitar,” tambahnya.
Analisis Populasi dan Tantangan Konservasi
Hasil survei menunjukkan bahwa populasi Orangutan Sumatra mengalami penurunan dibandingkan tahun 2011, sementara Orangutan Tapanuli yang hanya tinggal di wilayah Batang Toru memiliki kondisi sangat kritis. Jumlah spesies Tapanuli, yang tercatat hanya 716 individu, menempatkan mereka dalam kategori “kritis” menurut IUCN. Rohmat Marzuki menyoroti bahwa new policy akan memperkuat upaya perlindungan spesies Tapanuli melalui program khusus yang mencakup pemantauan dan rehabilitasi habitat. “Kita harus melindungi habitat mereka secara aktif, karena hanya 15% dari habitat alami Orangutan Tapanuli yang masih tersisa,” jelasnya.
Dalam new policy, Kemenhut juga menyasar pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan lingkungan dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Pihaknya berencana meluncurkan kampanye nasional yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara penggunaan lahan pertanian dan perlindungan hutan. “Konservasi orangutan bukan hanya tentang menjaga populasi, tetapi juga tentang menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang keberlanjutan,” tutur Rohmat Marzuki. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi konflik antara kebutuhan ekonomi dan lingkungan, yang sebelumnya menjadi hambatan utama.
